Greensasa

Coretan Tanpa Batas Dari Seorang Perempuan Biasa Yang Ingin Berbagi Tentang Hidup Bagi Siapa Saja Yang Berminat Membacanya....

Showing posts with label Wasior. Show all posts
Showing posts with label Wasior. Show all posts

Sunday, May 4, 2014

Potensi Wisata Wasior, Teluk Wondama-Papua Barat Yang Belum Terjamah

Saya sudah bahas tentang Mamberamo dan Sentani. Nah kali ini saya akan membahas tentang salah satu daerah lagi di Papua. Lebih tepatnya di Papua Barat, yaiut Wasior - Teluk Wondama. Bagi kalian yang mungkin sudah membaca beberapa postingan saya, pasti akan familiar dengan Wasior karena memang saya sempat menceritakan sedikit di postingan sebelum-sebelumnya. Tapi kali ini saya akan membahas lebih ke wisata apa saja sih yang ada di sana. Eitsss jangan penasaran, karena kita akan langsung bahas sekarang juga. :)
Wasior terletak di kabupaten Teluk Wondama yang masuk dalam provinsi Papua Barat, tepat berada di kepala burung pulau Papua. Saat kalian mendengar Wasior, yang terbesit dalam pikiran kalian pasti tentang banjir bandang yang pernah terjadi di tahun 2010. Di sini saya akan meluruskan bahwa Wasior tidak hanya tentang banjir bandang saja, tetapi potensi wisata yang di miliki daerah ini pun sangat bagus untuk di rekomendasikan bagi kalian yang ingin berpetualan ke daerah Papua Barat selain Raja Ampat. Saya mengenal Wasior juga karena perusahaan tempat saya bekerja berpindah lokasi ke daerah ini dan karena suka bertualang membuat saya dan beberapa teman mencoba menjelajah potensi wisata yang ada di daerah ini. 

Transportasi
Transportasi untuk menuju Wasior adalah dengan menggunakan kapal ferry, kapal kayu, kapal laut dan pesawat terbang. 
    Bandara Rendani Manokwari
  1. Jika menggunakan pesawat terbang dari tempat asal, kita akan berganti pesawat di Manokwari karena tidak ada pesawat besar yang mempunyai rute penerbangan ke Wasior. Hanya Sussi Air saja yang melayani pernerbangan menuju Wasior setiap hari di pukul 07.00 WIT dari Manokwari -Wasiordan 08.00 WIT dari Wasior-Manokwai, juga pukul 15.00 WIT dari Manokwari-Wasior dan 16.00 WITdari Wasior-Manokwari seharga Rp. 1,480,000 sekali penerbangan. 
  2. VIP Ferry Napan Wainami
  3. Jika menggunakan Kapal Ferry, setelah sampai di Bandara Rendani - Manokwari kita akan menuju Pelabuhan Ferry yang berada di daerah Sowi. Dapat menggunakan jasa tukang ojek yang ada di sekitar bandara dan minta untuk di antarkan ke pelabuhan Ferry di Daerah Sowi dengan membayar ojek seharga Rp. 15.000-25.000 untuk sekali jalan. Kita juga bisa meminta ojek mengantarkan berkeliling atau mencari keperluan yang dibutuhkan saat melaukan trip seperti membeli makanan kecil atau lain sebagainya di supermarket seperti Hadi yang cukup terkenal di Manokwari. Kapal Ferry Napan adalah Ferry yang melayani rute perjalanan menuju Wasior dan berangkat pukul 17.00 WIT dari Manokwari di hari Selasa dan 17.00 WIT di hari Rabu dari Wasior. Karena pesawat yang tiba di Manokwari rata-rata pagi dan siang sehingga saya sarankan kalian untuk menghabiskan waktu menunggu dengan jalan-jalan berkeliling menjelajah Kota Manokwari. Jika kalian ingin merehatkan badan sejenak sambil menunggu ferry yang akan berangkat di sore hari, kalian dapat menginap di hotel dengan kisaran harga Rp.150.000-750.000/malam. Ferry Napan menetapkan Tarif Ekonomi Rp.98.000, VIP Rp. 125.000. Beda VIP dan Ekonomi sama seperti Ferry pada umumnya, tetapi saya sarankan kalian untuk memilih kelas VIP saja. Ferry ini akan tiba di Wasior kurang lebih pukul 05.00 WIT, dan di luar masih akan terlihat gelap gulita sehingga kalian dapat menunggu di Ferry sampai langit sudah cukup terang. 
  4. Jika menggunakan Kapal Kayu seperti Gracelia, tarif yang ditentukan adalah seharga Rp. 180.000 dengan fasilitas tempat tidur yang dapat diperoleh dengan siapa yang lebih cepat mendapatkannya. Jadwal keberangkatan Gracelia yaitu hari Selasa dan Kamis dari Wasior, Senin dan Rabu dari Manokwari. Berangkat pukul 17.00 WIT. Dari Bandara kalian dapat meminta ojek untuk mengantarkan kalian menuju pelabuhan kapal laut atau pelabuhan besar.
  5. Jika kalian memilih untuk menggunakan kapal laut, maka pastikan untuk mempunyai jadwal yang memang akan mampir ke Wasior seperti KM. Ngapulu atau KM. Labobar (Silahkan konfirmasi lagi ke PELNI karena kadang jadwal suka berubah-ubah.
Depan :Ferry Napan, Belakang: Gracelia

Sampai di Pelabuhan Wasior, akan banyak tukang ojek yang menanti untuk mengantarkan kita kemana pun kita akan pergi. Tarif tukang ojek di Wasior yaitu seharga Rp. 5,000-50.000 tergantung jarak yang ditempuh. Wasior memiliki beberapa penginapan tetapi saya merekomendasikan teman-teman untuk menginap di hotel Darmaji, karena sangat nyaman dan mempunyai fasilitas Wifi jika kalian ingin mengupdate perjalanan kalian. Harga hotel di Wasior yaitu berkisar Rp.200.000-350.000/malam.



Wisata
Potensi wisata yang ada di Wasior cukup banyak. Saya akan membagi beberapa yang sudah saya kunjungi buat kalian semua.

 
Jalanan Menuju Pantai Trans
1. Pantai Trans
Saat liburan lebaran saya dan beberapa teman kerja dengan menggunakan mobil carteran menuju pantai ini. Pantai berada di wilayah perkampungan transmigrasi. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai disini dengan melewati jalan dari yang mulus hingga bebatuan dan jembatan yang rusak.




Jembatan Kayu Pantai Trans
Pantai Trans
Gosong Pantai Trans


Kalian dapat menyewa longboat penduduk setempat untuk mengantarkan kalian menuju Pulau Gosong yang ada di depan pantai ini. Sayangnya hari itu tidak ada satu pun longboat yang ada di sekitar pantai tersebut sehingga kami hanya dapat memandangi Pulau Gosong tersebut dari kejauhan. 


Pengunjung Yang Sedang Bermain Air
2. Kali Wasior
Kali ini cukup besar dan biasa di jadikan tempat wisata untuk bermain air. Berada di jalan yang sama saat akan menuju Pantai Trans. Kalinya cukup besar dan arusnya bisa di tidak terlalu deras dan jernih. Saya dan beberapa teman hanya memilih untuk bermain air di pinggir kali saja.



Kembali Narsis Di Kali Wasior















3. Pantai Tanpa Nama Di Tanjung Wasior
Pantai ini berada di ujung tanjung Wasior, tidak cukup bersih karena tidak ada perawatan khusus untuk pantai ini. Karena ada pepohonan pengunjung dapat duduk sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan memandang pantai di yang ada di depan mata. Saat surut kita dapat menyusuri pantai hingga ke tengah.


                             


Pelabuhan Wasior
4. Pelabuhan Wasior
Pelabuhan Wasior pun dapat menjadi potensi wisata karena di sore hari akan banyak pedagang yang berjualan makanan di pinggir pantai. Penduduk setempat pun banyak yang menghabiskan waktunya sore hari di pelabuhan dengan memancing sedangkan anak-anak kecil akan memilih untuk berenang sambil bermain dan bercanda dengan teman-temannya. Kita pun dapat melihat sunset yang indah jika langit sedang cerah.




Pemandangan Dari Puncak Bukit
5. Kantor Pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama
Kantor pemerintahan ini berada di atas bukit, dan dapat ditempuh dengan 20-30 menit menggunakan sepeda motor karena letaknya yang cukup jauh. Jalannya cukup bagus walau ada beberapa juga yang masih rusak dan butuh perbaikan serta perhatian khusus dari pemerintah. Perkantoran yang berada di atas bukit ini menurut saya bisa menjadi salah satu potensi wisata karena jika kita jalan terus menyusuri bukit hingga di puncak maka kita dapat melihat pemandangan laut Teluk Wondama.


Kampung Dusner
6. Kampung Dusner
Kampung Dusner tidak berada dalam kawasan Wasior tetapi berada di pulau tersendiri yang berada di seberang Wasior. Pertama kali saya datang ke kampung ini saya di buat terkejut dan takjub dengan kebersihan kampung ini. Di bayangan saya, kampung ini akan kotor dan tidak terawat, ternyata saya salah besar. Tidak ada sampah yang berserakan, kampung ini cukup bersih sehingga saya menjadi sangat nyaman untuk menyusuri perkampungan ini. 

Pantai Kampung Dusner
Kampung Dusner ini terletak di sebuah pulau yang sudah pasti memiliki sebuah pantai yang cukup panjang dan luas walau pun tidak berpasir putih tetapi sangat bersih dan menyenangkan untuk bermain di pesisir pantainya. Jika siang atau sore hari banyak anak kecil penduduk setempat yang akan bermain air di pantai tersebut, kalian dapat mengajak mereka ngobrol atau berfoto bersama. Mereka sangat senang bertemu dengan orang baru walau pun awalnya akan sedikit malu-malu tapi dijamin seru.

Anak-Anak Kampung Dusner
 Selain itu di sekitar Kampung Dusner ada beberapa pantai dengan pasir putih dengan air laut kehijau-hijauan yang dapat dikunjungi dengan menyewa longboat milik masyarakat setempat. Sewa longboat tergantung jarak yang ditempuh. Biasanya berkisar Rp. 200.000 ke atas tergantung biaya bahan bakar dan traif yang ditentukan pemilik longboat. Faktor kedekatan dan kepintaran tawar-menawar akan sangat berguna disini. Jika kalian ingin snorkeling, tanyakan pada motoris longboat yang berguna juga sebagai guide dadakan apakah daerah tersebut aman dipakai untuk berenang atau tidak, ini berguna demi kenyamanan kalian.
Longboat Transportasi Air
Pantai Sekitar Kampung Dusner


7. Pantai Pasir Putih Tanjung Kampung Simei.
Pantai ini terletak di tanjung pulau Kampung Simei. Berbeda dengan pantai Kampung Dusner yang memiliki pantai yang luas. Pantai Putih Tanjung ini memiliki banyak sekali batu-batuan kerikil dan batu pantai. Jika kita ingin menuju pantai pasir putih kita harus menyusuri batu-batuan ini dan berjalan sedikit menuju pasir putih tanpa bebatuan tersebut dan dapat kita susuri jika air laut surut. Saat air laut sedang pasang maka kita hanya dapat menggunakan kole-kole atau longboat untuk mencapai pantai ini. Kole-kole adalah sebuah perahu kayu kecil yang menggunakan dayung untuk menjalankannya. Aman untuk berenang karena terdapat banyak pasir tetapi berhati-hati lah, tetap gunakan pelampung bagi yang tidak bisa berenang dan sebaiknya di pandu oleh Guide lokal. Disini juga kita dapat melihat beberapa jenis Anggrek di pohon-pohon yang ada di pinggir pantai.
Pantai Pasir Putih
Pantai Sebelum Pasir Putih


Sandei Distrik Windesi
 8. Kampung Sandei Dan Pantai Panjang
Kampung Sandei dapat ditempuh selama 30 menit-1 jam lebih dengan menggunakan speedboat atau longboat tergantung dari kapasitas besarnya mesin yang digunakan speedboat atau longboat tersebut. Kmpung ini berada di pulau sebelah Kampung Simei dan berhadapan dengan Pulau Yoep. Sandei memiliki pantai yang sangat panjang dan luas, terdapat banyak karang dan dapat dijadikan tempat snorkeling lagi-lagi harus dengan panduan Guide lokal dan berpengalaman karena wilayah ini masih sangat baru dan belum terjamah wisatawan. Jika tidak ingin snorkeling kita dapat melihat ikan-ikan dengan berbagai warna berenang kesana kemari karena airnya sangat jernih. Duduk santai sambil minum air kelapa langsung dari kelapanya bisa menambah seru cerita perjalanan kalian, seperti apa yang saya lakukan bersama teman-teman saya saat berada disana.
View Pantai Sandei 
Air Laut Pantai Sandei
Pantai Sandei Saat Surut


Selain beberapa tempat yang saya sebutkan di atas, masih banyak lagi potensi wisata yang ada di Wasior-Teluk Wondama, Papua Barat ini. Seperti Pulau Yoep, Windesi, Roon dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya saja pemerintah setempat belum menggalakan dan mengenalkan potensi wisata yang ada di daerah ini kepada masryawakat di luar wilayah Teluk Wondama ini. Bagi Saya, Teluk Wondama bisa saja menyaingi potensi wisata Raja Ampat yang sudah sangat di kenal ke seluruh dunia. Saya hanya pendatang yang suka bertualang saat berada di sana sehingga hanya beberapa yang saya dapatkan ini yang bisa saya bagi kepada kalian semua. Saya tetap bersyukur pada yang Maha Kuasa karena saya di beri kesempatan untuk melihat keindahan alam ciptaan-Nya di ujung timur Indonesia ini. Semoga bermanfaat.... :)

Wednesday, August 29, 2012

Perjalanan Terjal Berbuah Nikmatnya Ikan Bakar Di Camp Simei, Wasior - Teluk Wondama, Papua Barat

Wasior! Akhirnya samapai juga saya di tempat ini. Pemandangan luar biasa, tepi pantai yang meliuk elok. Benar-benar tempat yang saya idamkan selama masih di Mamberamo. Laut, begitu cintanya saya dengan laut walaupun tak bisa berenang tetapi berdiri di pantai dan menhirup udara laut membuat pikiran saya menjadi lebih segar.
Camp tempat saya dan teman-teman berada saat ini memang jauh dari sempurna dan berbanding terbalik dengan camp di Mamberamo. Tapi ada hal yang lain yang membuat saya merasa tidak perlu banyak mengeluh karena inilah resiko tempat baru yang baru-baru saja dibuka.
Sudah tiga hari kami berada di Camp ini, tapi tidak banyak yang kami kerjakan. Hanya berada di kantor seharian, bosan juga rasanya tidak mempunyai kerjaan. Mungkin rasa bosan kami itu di dengar oleh Tuhan, dan melalui ajakan Zainuddin yang seorang operator Dump Truck untuk pergi memancing di pantai itulah saya merasa Tuhan mendengar doa saya.
Sore hari Nuddin mencari kami di kantor dan mengajak kami untuk memancing tetapi Theo, Sarah dan Pak Mantri Budi memilih untuk tetap tinggal di kantor. Jadi hanya saya dan Endang saja yang berangkat memancing dengan pak polisi, bang Salim/bang gondrong, Sigit, dan Ilyas. Kami berangkat dengan menggunakan DT (Dump Truck) 43 yang dikemudikan oleh Nuddin. 43 adalah nomor masing-masing unit kendaraan. DT berjalan mulus, alat pancing sudah siap. Saat DT sampai di jalanan yang menurun menuju logpond, ternyata jalan utama tersebut ditutup dengan batu-batu sehingga tidak dapat kami lewati.
Akhirnya Nuddin mengemudikan DT ke arah kiri jalan menuju  lokasi yang akan dibangun kantor, dia mengikuti instruksi dari bang Salim, Ilyas, dan Sigit. Walaupun dia menyakinkan kalau lebih baik DT tersebut diparkirkan  saja di depan tumpukan batu dan kami berjalan kaki saja. Tetapi instruksi abang-abang tadi jauh lebih kuat dari pada keyakinannya sendiri. DT dapat melintas mulus menuju Logpond.
Kami turun satu persatu, dan mulai mempersiapkan senjata pancing kami. Cukup lama kami memancing tetapi tidak satu pun dari kami yang mendapatkan ikan, bahkan berkali-kali kail kami sangkut di karang. Hari semakin sore, pak poli berteriak memanggil kami untuk pulang. Dia berjalan lebih dulu menuju rumah penduduk setempat bersama Sigit, dan kembali lagi ke tenpat dimana DT di parkir dengan membawa beberapa ikat ikan barakuda dan cakalang. Semua sudah siap untuk bergegas pulang kembali ke Camp. tetapi permasalahan kami adalah bagaimana kami akan pulang? DT tidak bisa naik melewati jalan tanah liat merah dimana kami lewati tadi. Nuddin sudah mencoba berkali-kali tetapi tidak berhasil, bang Salim mencoba juga dan sama tidak berhasil. Aakhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Awal perjalanan kami lancar tanpa hambatan, sampai akhirnya kami menemukan batuan material yang berserakan di jalan utama yang tidak dapat kami lintasi saat akan turun ke Logpond tadi. Kami tidak mungkin berhenti berjalan dan kembali melewati jalan liat merah yang cukup jauh di belakang sana dan jalannya cukup memutar sehingga tidak menghemat waktu. Sehingga mau tidak mau, kami tetap emmilih untuk meneruskan jalan dengan melewati batu-batuan tersebut. Jalannya cukup terjal, kami harus memanjat dan mencari batu-batuan yang kokoh untuk menjadi pijakan kami. Cukup lama kami memanjat, dan perlahan-lahan kami beranjak maju, dengan sedikit bantuan bang Salim akhirnya saya bisa sampai di tempat yang bebas bantu. Sedangkan Endang dibantu Nuddin, Sigit dan Pak Polisi membantu kami dengan hiburan canda sehingga kami bisa t yang sedang kami lewati tersebut tertawa melupakan jalan yang terjal dan berbatu-batu yang sedang kami lewati tersebut. Sementara Ilyas memilih melewati jalan yang memutar dibelakang sana.
Keringat bercucuran ditubuh kami, tapi tidak ada keluhan apa pun yang keluar dari mulut kami. Hanya canda dan tawa. Walau bang Salim berkali-kali berkata "Kasian anak orag dibuat begini" tapi kami tetap menikmati perjalan tersebut tanpa mengeluh. Selama perjalanan yang terbayang di kepala saya adalah ikan bakar, karena jujur saja baru tig ahari di camp baru ini saya sudah merasa bosan dengan menu makanan yang berupa mie dimana hampir setiap jam makan kami hanya menu itu saj ayang tersedia. Dan perjalanan ini merupakan hal pertama yang  membuat saya mulai menikmati lokasi baru bersama operator-operator yang jauh dari kesan kasar seperti apa yang saya bayangkan selama ini. Tampak luar mereka mungkin memang kasar dan sangar, tetapi ternyata mereka jauh lebih baik dari yang mungkin kami pikirkan selama ini.
Perjalanan dan awal perkenalan kami berakhir dengan acara ikan bakar di depan mess Pak Polisi dan bang Salim. Perjalanan juah hampir 2 kilo kami tempuh terbaya dengan enaknya ikan bakar yang dibakar oleh Pak Polisi dan bang Ilyas. Rasa puas campur senang membuat kami melupakan 2 kilo perjalanan, dan terjalnya batu-batu yang kami panjat untuk kembali ke Camp tadi.
Kembali lagi saya berucap syukur pada Tuhan karena bisa mengenal orang-orang ini sebelum akhirnya mereka pulang kembali ke kampung halaman mereka tanggal 31 Agustus 2012 nanti.



Regards,


Sasa

Sunday, August 26, 2012

Laut Wasior - Teluk Wondama, Papua Barat

Akhirnya pagi menjelang setelah semalaman tidur berhimpitan dengan Sarah dalam 1 ranjang berukuran 1x2meter. Pagi ini yang saya tunggu-tunggu karena akhirnya saya bisa melihat lokasi baru perusahaan tempat saya bekerja. Menurut perhitungan saya yang masih awam dengan dunia kelautan, kami akan tiba sekitar jam 10 pagi. Saya, Theo, Sarah, Budi dan Endang menuju Wasior dari Dawai dengan menggunakan Tagboat tetapi Theo dan Pak Mantri Budi tidak diijinkan untuk menumpang di Tagboat bersama kami yang perempuan-perempuan. Akhirnya mereka menginap selama perjalanan di atas Tongkang yang ditarik dengan tagboat. Setelah sarapan kami naik ke dek atas Tagboat dan melihat ke sekeliling yng mulai tampak pulau-pulau juga orang-orang yang menginap di tongkang. Cukup lama kami berada di luar sambil melihat sekeliling kami. Mendung bergelayut manja membuat kami terpaksa untuk masuk ke dalam dek kembali. 
Untuk menhilangkan rasa bosan kami, saya mengajak Sarah dan Endang untuk bermain kartu, kemudian tidur-tiduran sampai dipanggil untuk makan siang oleh koki tagboat tersebut. 
Tagboat bergoyang kencang membuat kami oleng, saat saya di kamar mandi saya melihat keluar jendela dan semakin banyak lagi pulau-pulau yang terlihat. Kami pun kembali memilih untuk ke dek atas melihat pulau-pulau yang semakin terlihat tersebut, selian juga menghindari oleng yang sangat terasa di dek bawah. Kami memilih untuk duduk disebelah kemudi sambil melihat pulau-pulau sepanjang perjalanan kami. Rasa kagum saya tak dapat diukir dengan kata-kata. Saya hanya mampu berucap syukur kepada Tuhan karena dibolehkan melihat dan merasakan pengalaman ini semua dengan gratis di laut Papua ini. Tadinya saya ingin menggerutu karena harus bersusah payah dan merasa menjadi korban, tetapi Tuhan punya rencana lain. Dia ingin saya melihat keindahan Papua dengan apa yang saya lewati dengan perjalanan laut ini. 
Kembali saya berandai-andai, apa jadinya jika semua anggota gank dapur ada saat ini bersama kami. Aapakh mereka akan merasakan hal yang sama?  Saya rasa tidak sedetik pun moment-moment indah kami lewati jika kami bisa pergi bersama saat ini. Saya tetap akan menunggu teman-teman saya tersebut di Wasior. Semoga apa yang saya rasakan ini, juga dirasakan oleh Theo dan Pak Mantri Budi juga karyawan-karyawan lain yang ada di Tongkang.


Regrads,


Sasa